Pemikiran Politik Ibnu Khaldun


I. PENDAHULUAN
Ibnu Khaldun di lahirkan di Tunisia pada awal ramadhan tahun 732 H, atau pada 27 mei tahun 1333. rumah tempat tinggalnya hingga sekarang masi utuh yang terletak di jalan Turbah bay. Dalam beberapa waktu terakhir rumah tersebut menjadi pusat sekolah Idarah `Ulya dan pada pintu masuknya terpampang sebuah batu marmar berukiran nama dan tanggal lahir Ibnu Khaldun.
            Nama lengkap tokoh ini adalah Abdurrahman Abu Zaid Waliudin bin Khaldun . Nama kecilnya Abdurrahman, nama panggilan keluarga Abu Zaid, gelarnyqa waliudin dan nama populernya adalah Ibnu Khaldun. Gelar waliudin merupakan gelar yang diberikan orang sewaktu dia mengangkat jabatan sebagai Hakim di Mesir. Mengenai hal ini al-Muqrizi mengatakan di dalam bukunya as-Suluk: “Dan pada hari senin jumadilakhir th 786, syekh kita Abu Zaid Abdurrahman Ibnu Khaldun dipanggil datang ke benteng. Sultan menyerahkan jabatan kehakiman tertinggi kerajaan dan memberi gelar waliudin kepada Ibnu Khaldun”. 
            Seperti biasa di negra-negara Islam, sewaktu kecil ibnu khaldun menghafal Al-Qur`an dan mempelajari tajwidnya. Tempat belajar evektif yang dilakukan Ibnu Khaaldun yaitu di tempat masjid Orang tunisia masih ingat betul masjid yang di gunakan ibnu Khaldun untuk belajar, masjid itu bernama Al-Quba, dan mereka menyebutnya Masjid el-quba, dalam bahasa sehari-hari jim diganti ya`.Sedangkan gurunya yang pertama adalah ayahnya sendiri, dan tunisia pada saat itu merupakan kumpulan ulama` dan para sastrawan serta menjadi pusat hijrah para ulama`-ulama` andalusia yang menjadi korban kekacaubalauan situasi negara yang tidak tenang.
II. RUMUSAN MASALAH
Dalam pembahasan ini kami akan menjelaskan tentang pemikiran politik ibnu khaldun, dan kami akan mencoba untuk menjelaskannya.
III. PEMBAHASAN
Era Ibnu Khaldun di pandang dari segi sejarah Islam adalah era kemunduran dan perpecahan. Bagi umat Islam, abad ke 14 M adalah abad kemunduran, bukan abad kemajuan di bidang intelektual, ekonomi maupun sosial. Mulai dari abad ke 8 sampai abad ke 12-13 merupakan abad-abad “Mukjizad Arab”. Tokoh Ibnu khaldun di gambarkan sebagai salah satu tokoh budaya Arab-Islam yang paling kuat dimasa kemundurannya.
            Di masa hidup Ibnu Khaldun, di bagian dunia Islam dimana ia lahir dan malang melintang di bidang politik aktif, yaitu di Afrika Utara bagian barat,terdapat 3 Negara yang selalu perang dengan sesamanya danmasing-masing berusaha untuk  menghancurkan pihak lain, ketika itu perpindahan loyalitas Negara Islam yang 1 dengan Negara Islam yang lain tidak di anggap sebagai hal yang luar biasa, kendati demikian sebagian dari sarjanah khalduni kontemporer menafsirkan peristiwa ini sebagai suatu tanda bahwa Ibnu Khaldun tidak mengenal loyalitas dan bersifat sangat oportunitis .
            Kebanyakan hukum-hukum dan pendapat-pendapat yang di tarik ibnu khaldun dari study-study poilitik dan masalah berdirinya Negara hanya sesuai untuk bangsa-bangsa yang menjadi observasinya, yaitu bangsa bangsa Arab, Barbar, dan bangsa-bangsa yang menyamainya dari segi kejadian dan masalah-masalah sosial. Dan bahkan hanya sesuai pada masa Ibnu Khaldun atau yang sejarahnya diketahui 
            Wafi menggambarkan Ibnu Khaldun sebagai orang yang mempunyai ambisi sangat besar yang memiliki kecenderungan jelek dalam dirinya. bagi wafi, inilah prinsip yang telah di laksanakan Ibnu Khaldun dari masa mudannya sampai waktu meninggal. Sementara di utara, yaitu eropa, sekarang telah terlihat tanda-tanda perubahan dan kebangkitan. mereka juga percaya bahwa otak manusia memiliki kemampuan untuk melampaui dunia fenomena ini dan mencapai kebenaran metafisis, maka dari itu Abad 13 itu juga merupakan abad yang amat menonjol dalam bidang intelektual, karena di waktu itu disadari adanya sintesa antara ratio dan keyakinan, atau antara filsafat dan teknologi .
            Hubungan antara pemikiran Ibnu Khaldun sebagai seorang pemikir sosial dan agamayang di anut, merupakan salah satu masalah pokok dalam membicarakan Ibnu Khaldun. ia adalah Islam yang mendapatkan pendidikan tradisional Islam sewperti yang lumrah terdapat di zamannya. yang menjadi pertannyaan apakah Ibnu Khaldun pemikirannya di anggap hebat karena ada dorongan-dorongan ajaran Islam yang di anutnya, apa ia berani melanggar ajaran yang telah di tentukan agamanya itu?? ada yang mengatakan bahwa ajaran Islam yang lengkap dan mencakup  itulah Ibnu Khaldun sampai kepada teori-teori sosialnya. Dan ada pula yang berpendapat bahwa ibnu khaldun telah berani melanggar pendapat-pendapat yang baku dalam ajaran Islam .
            Paling tidak, terdapat empat sub tema ketika mengkaji pemikiran Ibnu Khaldun dalam hal sistem politik Islam, yaitu asal mula timbulnya negara, konsep kepala negara, pengaruh faktor geografis terhadap politik, dan solidaritas kelompok.
1.      Asal Mula Timbulnya Negara 
            Ibnu Khaldun seorang kritikus dan pakar sosiologi, berpendapat bahwa adanya organisasi kemasyarakatan merupakan suatu keharusan bagi kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan pendapat yang telah banyak dikemukakan oleh para ahli sosiologi, bahwa manusia adalah makhluk politik (zoon politicon) atau makhluk sosial. Manusia akan merasa kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya jika ia hidup sendirian tanpa adanya institusi yang mengorganisasikannya. Fenomena riil inilah yang akhirnya mengilhami Ibnu Khaldun untuk memikirkan tentang asal mula negara dan menjadi embrio konsep negara menurut Ibnu Khladun. Karena negara dalam skala makro menempati posisi organisasi kemasyarakatan yang dapat memenuhi kebutuhan kodrati manusia. Gagasan ini juga serupa dengan yang telah diungkapkan terlebih dahulu oleh Plato.
2.      Konsep kepala Negara
            Menurut Ibnu Khaldun, keberadaan kepala negara sebagai penengah, pemisah, dan sekaligus hakim merupakan suatu keharusan bahkan keniscayaan bagi kehidupan bersama umat manusia dalam suatu komunitas masyarakat (negara). Jabatan kepala negara merupakan lembaga yang alamiah dan natural bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Seorang kepala negara yang sebenarnya, harus memiliki superioritas dan keunggulan serta kekuatan fisik agar keputusan atau kebijakan yang diambil dapat berlaku secara efektif. Seorang kepala negara harus memiliki tentara yang kuat dan loyal kepadanya guna menjamin keamanan negara dari ancaman luar. Selain itu ia harus berkuasa menarik dana bagi pembiayaan operasional negara.
            Kebijakan pemerintah yang diambil melalui kepala negara meski didasarkan pada peraturan-peraturan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan politik tertentu, yang tidak merugikan bagi sebagian atau keseluruhan rakyat. Kebijaksanaan politik itu dapat diambil dari beberapa sumber, yaitu pertama, rekayasa para intelektual, cendekiawan, pemuka masyarakat, dan orang pandai di antara mereka. Kedua, ajaran agama yang diturunkan Tuhan kepada utusan-utusannnya.
            Secara sistematis, Ibnu Khaldun telah memberi kriteria tertentu bagi seseorang yang akan menduduki jabatan kepala negara, yaitu bahwa ia harus (a) berilmu, (b) adil, (c) mampu, (4) sehat badan, dan (5) dari keturunan Quraiys (keluarga terhormat).
3.      Pengaruh faktor geografis terhadap politik
            Ibnu Khaldun mensinyalir bahwa keanekaragaman keadaan fisik, watak, mental, dan perilaku manusia itu dipengaruhi oleh faktor geografis. Masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah yang beriklim ekstrim, sangat panas atau sangat dingin, baik peradaban maupun budayanya tidak akan dapat berkembang secara dinamis. Sebaliknya suatu bangsa akan dapat memberikan kontribusinya kepada sejarah dan kebudayaan dunia manakala terletak di bagian bumi yang beriklim sedang.
            Teori ini dipergunakan oleh para ahli hukum Islam sebagai salah satu dasar argumentasi bahwa pelaksanaan ajaran Islam dan hukumnya yang universal itu dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain karena perbedaan lingkungan, kondisi, adat istiadat, dan tradisi.
4. Solidaritas kelompok 
            Menurut Ibnu Khaldun, solidaritas kelompok (‘ashabiyyah) sangatlah diperlukan karena dapat melahirkan semangat saling mendukung dan saling membantu serta rasa ikut malu dan tidak rela jika di antara mereka diperlakukan tidak adil atau hendak dihancurkan. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun untuk menguraikan teori ‘ashabiyyah ini, antara lain:
a)      Secara alamiah solidaritas kelompok itu terdapat dalam watak manusia.
b)      Adanya solidaritas kelompok yang kuat merupakan suatu keharusan dalam membangun suatu negara.
c)      Seorang kepala negara, agar dapat secara efektif mengendalikan ketertiban negara dan melindunginya, harus mampu menumbuhkan solidaritas kelompok.
d)     Solidaritas kelompok dapat melahirkan pemimpin yang unggul dan superior.

IV. KESIMKPULAN
Dapat di ambil kesimpulan bahwa sistem politik Ibnu Khaldun banyak menuai kontroversi, namun demikian konsep yang dikembangkan Ibnu Khaldun sangatlah bermanfaat, beliau sanggup unjuk gigi di saat kehancuran Islam, dari system Negara Menurut Ibnu Khaldun, idealnya suatu negara berdasarkan nilai Islam secara formal untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran, namun ia juga tidak menutup realitas bebrapa negara yang dapat berkembang secara progresif, mandiri, dan mencapai kesejahteraan tanpa harus berasaskan Islam secara formal.


DAFTAR PUSTAKA
Wafi, Ali Abdulwahid Ibnu Khaldun Riwayat Dan Karyanya, Jakarta: PT Grafitipers, 1985.
Zainuddin, A. Rahman Kekuasaan Dan Negara Pemikiran Politik Ibnu Khaldun, Jakarta:PT Gramedia Pustaka Umum, 1992
http://mlatiffauzi.wordpress.com/2008/01/13/politik-islam-ibnu-khaldun-dan-sosial-politik-indonesia/
http://progresif-lshp.blogspot.com/2009/01/konsep-politik-islam-ibnu-khaldun.html